Perempuan yang Tidak Pernah Merasakan Cinta

Warung Senin Sembilan Malam: Perempuan yang Tidak Pernah Merasakan Cinta

Malam itu kota begitu terang.

Lampu kendaraan memenuhi jalanan depan warung.
Neon toko-toko perkotaan memantul di genangan air bekas hujan sore tadi.

Tapi entah kenapa…
malam tetap terasa dingin.

Warung masih buka seperti biasa.
Speaker kecil di pojok warung memutar lagu-lagu 90an dengan pelan.
Dan Mamang terlihat sedang merapikan gelas-gelas kopi di etalase.

Ditengah suasana malam yang begitu terang, tiba-tiba datang seorang perempuan.

Masih muda.
Cantik.
Wangi parfumnya yang begitu semerbak namun sedikit samar tercampur aroma asap jalanan malam.

Dia memakai pakaian yang terlalu terbuka untuk udara sedingin itu.

Tapi yang paling mencolok bukan penampilannya.

Melainkan matanya.

Kosong.

Seolah hidupnya sudah terlalu lelah untuk berharap apa-apa lagi.

Dia duduk pelan di kursi depan warung.

“Mang… biasa, mie rebus soto satu.”
“Sama kopi susu dingin.”

Mamang mengangguk kecil.

Perempuan itu duduk diam sambil melihat smartphonenya.

Sesekali ia melirik keluar, melihat jalanan.


Mobil datang dan pergi.
Orang-orang tertawa.
Dunia tetap berjalan seperti biasa.

Perempuan yang begitu cantiknya itu namun matanya terlihat jauh.

“Tumben mampir dulu neng, jam segini.”

“Ini baru mau berangkat kerja tah neng?” tanya Mamang pelan.

Perempuan itu tersenyum kecil.
Tipis sekali.

“Kerja, Mang.”
“Kalau gak kerja… anak saya makan apa.”

Mamang terdiam.

Suara air mendidih mulai terdengar memenuhi warung.

Perempuan itu menunduk.
Jarum jam menunjuk lewat 11 malam.

“Sebenernya saya capek, Mang.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Bukan seperti seseorang yang mengeluh.
Tapi seperti seseorang yang sudah terlalu lama kuat.

“Saya tiap malam ketemu banyak laki-laki.”

Dia tertawa kecil.
Tapi matanya tidak ikut tertawa.

“Banyak banget yang bilang sayang.”
“Banyak yang bilang cinta.”

“Tapi lucunya…”
“Saya gak pernah benar-benar merasa dicintai.”

Mamang meletakkan mie rebus dan kopi susu dingin yang sudah siap di depannya.

Asap mie mengepul pelan.
Es di gelas kopi mulai mencair sedikit demi sedikit.

Perempuan itu menatap mie rebusnya lama, sambil sesekali mengaduk dengan sendok garpu di kedua tangannya.

“Saya kadang iri sama perempuan lain, Mang.”

“Iri lihat ada yang dijemput.”
“Iri lihat ada yang digandeng, dirangkul, dipeluk dengan tulus.”

Matanya terlihat berkaca-kaca.


“Iri lihat ada yang dicintai tanpa harus dibayar.”

Suasana warung mendadak terasa sunyi.

Bahkan suara kendaraan di luar seperti menghilang.

“Kayanya, saya udah lupa rasanya dicintai sebagai manusia.”

Kalimat itu pelan.
Tapi menghantam begitu keras.

Dia mengusap matanya cepat-cepat.

“Padahal saya kerja begini bukan karena saya suka.”

“Saya cuma pengen anak saya sekolah.”
“Pengen dia makan cukup.”
“Pengen dia nanti jangan hidup kayak saya.”

Mamang duduk di kursi depannya.

Lalu berkata pelan,

“Emang hidup itu misterius.”

“Kadang hidup bikin seseorang masuk ke jalan yang sebenarnya gak pernah mau dia pilih.”

“Bukan karena dia gagal atau buruk.”
“Tapi karena dia lagi berusaha bertahan hidup.”

Perempuan itu terdiam.

Di malam itu…
matanya terlihat ingin menangis.

Dan di bawah lampu warung,
Mamang akhirnya sadar.

Tidak semua perempuan malam menjual tubuhnya karena kehilangan harga diri. Sebagian dari mereka…
hanya seorang manusia yang sedang berjuang sendirian untuk seseorang yang sangat mereka cintai.

Ada orang-orang yang terlihat kotor di mata dunia.
Padahal diam-diam, mereka sedang bertaruh hancur demi orang yang ingin mereka selamatkan.