Rumah untuk Pulang yang Hilang

Warung Senin Sembilan Malam: Rumah untuk Pulang yang Hilang

Malam ini entah kenapa terasa begitu panas.
Begitu gerah.

Langit gelap.
Namun angin tetap berembus pelan membawa debu jalanan yang mulai sepi.

Warung masih buka seperti biasa.
Lampu masih menyala menerangi seisi warunh.
Suara televisi kecil di pojok warung terdengar samar.
Dan terlihat Mamang sedang menyeduh kopi untuk dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, seorang pria yang terlihat dewasa datang.
Langkahnya pelan.
Baju dan celananya kusut.
Terlihat kakinya penuh dengan debu.

Ia duduk di kursi paling ujung.

“Mang… kopi hitam satu.”

“Seperti biasa?” Tanya Mamang.

Pria itu menggeleng.

“Iya mang.”

Mamang mengangguk mengiyakan.

Lampu warung menyoroti wajah pria itu.
Terlihat wajah pria tersebut sangat lelah.
Bukan lelah karena bekerja.
Tapi seperti seseorang yang sudah terlalu lama kalah.

Kopi datang.

Pria itu memegang gelasnya dengan kedua tangan.
Menghangatkan jemari yang dingin.
Lama sekali ia hanya diam.
Sampai akhirnya Ia berkata pelan, memecah suasana.

“Mang…”

“Iya Pak?”

“Kalau orang kehilangan uang, masih bisa dicari lagi ya?”

Mamang mengangguk.
“Bisa.”

Pria itu tersenyum kecil.
Tipis sekali.

“Kalau kehilangan rumah?”
“Masih bisa dibangun lagi.” Sambungnya.

Ia menatap kopi hitam di depannya.

“Asal jangan kehilangan keluarga ya, Mang.” Lanjutnya berkata lirih.

Warung mendadak terasa lebih sunyi.

Mamang tidak menjawab.
Ia hanya mendengarkan.

“Saya dulu punya semuanya.”

“Rumah ada.”
“Mobil ada.”
“Usaha juga lumayan.”

Pria itu tersenyum.
Senyum yang diiringi tawa kecil.
Tawa yang terdengar lebih mirip penyesalan.

“Awalnya cuma iseng.”
“Katanya bisa cepat untung.”
“Katanya cuma seratus ribu.”
“Katanya bisa balik modal.”

Ia menggeleng pelan.

“Saya percaya.”

Malam semakin larut.
Beberapa motor melintas di depan warung.

Tiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut pria itu seakan membuat dunia berhenti sejenak.

“Pas kalah, saya pengen balikin.”
“Pas kalah lagi, saya pinjam uang.”
“Pas gak bisa bayar, saya pinjol.”
“Pas pinjol numpuk, saya pinjam lagi.”
“Sampai akhirnya saya gak tahu lagi mana uang saya dan mana utang saya.”

Tangannya mulai gemetar.
Ia kembali melanjutkan perkataannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Rumah dijual.”
“Motor dijual.”
“Tabungan habis.”
“Semua habis.”

Ia menarik napas panjang.
Tapi bagian paling menyakitkan ternyata belum selesai.

“Saya pikir itu yang paling berat.”

“Ternyata bukan.”

Matanya menatap kosong ke jalanan.

“Yang paling berat itu waktu saya melihat anak saya sendiri.”
“Dia ada di depan mata saya, tapi seakan saya tidak bisa mendekatinya.”

Mamang terdiam.

Pria itu kembali tersenyum.
Tapi saat ini matanya mulai basah.

“Istri saya bertahan lama sekali, Mang.”
“Dia berkali-kali percaya saya bakal berubah.”
“Berkali-kali maafin saya.”
“Berkali-kali nutupin kebohongan saya dari anak.”

Suara televisi di pojok warung seakan mengiringi tiap omongannya.

“Suatu hari istri saya cuma bilang satu kalimat.”

Pria itu menunduk.

“‘Aku capek sama kamu. Aku capek menyelamatkan orang yang gak mau menyelamatkan dirinya sendiri.'”

Tangannya menggenggam gelas kopi lebih erat.

“Besoknya dia pergi.”

“Dia pergi bersama anak saya.”
“Dan gak pernah pulang lagi.”

Hening.
Tidak ada suara selain suara tv dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang.

“Mang…”

“Iya.” Mamang menjawab dengan suara lirih.

“Saya bisa cari uang lagi.”
“Saya bisa kerja lagi.”
“Saya bisa mulai dari nol lagi.”
“Tapi sampai hari ini…”

Suaranya patah.

“Saya gak tahu gimana caranya balikin kepercayaan istri dan anak saya.”

Air matanya akhirnya jatuh.

Pria dewasa yang sudah melewati puluhan tahun kehidupan terlihat seperti anak kecil yang tersesat.

Mamang duduk di sampingnya.
Lalu berkata pelan,

“Uang yang hilang bisa dicari.”
“Rumah yang hilang bisa dibangun.”
“Tapi memang, keluarga yang terluka… butuh waktu lebih lama untuk pulih.”

Pria itu mengangguk.
Air matanya masih menetes.

Malam itu seakan lebih membuat ia tersadar…

Yang menghancurkan hidupnya bukan semata judi atau utang.
Melainkan setiap kebohongan kecil yang ia pilih untuk mempertahankan semuanya.
Sampai ia kehilangan semuanya. Hal-hal yang paling berharga di hidupnya sendiri.

Kehilangan hal yang paling berharga.
Kadang seseorang tidak sadar sedang menghancurkan hidupnya ketika itu terjadi.

Ia baru mengerti setelah semuanya sudah terlanjur terjadi. Setelah kesepian datang menemani. Ketika rumah menjadi sepi. Setelah meja makan kehilangan suara.

Dan setelah orang-orang yang paling mencintainya memutuskan menyerah. Memilih pergi demi menyelamatkan diri mereka sendiri.