Cinta yang Habis di Satu Orang

Warung Senin Sembilan Malam: Cinta yang Habis di Satu Orang

Malam ini hujan begitu derasnya.

Warung masih tetap buka seperti biasa. Lampu kuning yang menyala, suara deras air hujan yang menabrak asbes atap warung.
Dan aroma kopi yang bercampur bau aspal basah jalanan depan warung.

Sebuah mobil berhenti di depan warung, seorang pria keluar.
Dia berjalan mendekat ke dalam warung di bawah payung hitamnya.

Tinggi.
Putih.
Bergaya.
Ia mendekat dengan jaketnya yang basah terkena cipratan air hujan.

Mamang langsung kenal.

Biasanya dia datang sambil ketawa.
Biasanya dia tidak sendiri.
Kadang dua bulan berturut-turut dia datang dengan perempuan yang berbeda.

Anak muda yang keliatan hidupnya selalu baik-baik saja.

Tapi malam ini…
dia datang sendiri.

“Kayak biasa, Mang. Kopi hitam.”

Mamang bergegas menyeduh kopi pesanan.

“Tumben sendiri.”

Pria itu ketawa kecil.
Tapi terasa hambar.

“Iya, Mang.”

Hening sebentar.
Suara sendok beradu dengan gelas kaca.

Kembali memecah keheningan, pria itu tiba-tiba berbicara sambil meliat keluar ke arah derasnya hujan.

“Dulu saya gak percaya kalau cinta bisa habis di satu orang.”

Mamang diam. Mendengarkan.

“Saya pikir itu cuma omongan orang yang belum bisa move on.”

Dia tiba-tiba menarik napas panjang.

“Makanya mang, saya coba jalan sama siapa aja.”
“Ketemu orang baru.”
“Coba hubungan baru.”

Pria itu tersenyum kecil.

“Tapi aneh, Mang.”
“Makin banyak ketemu orang…”
“rasanya makin kosong.”

Hujan makin deras.
Tapi entah kenapa suasana warung seakan menjadi lebih sunyi.

“Kadang saya lagi ngobrol sama cewek…”
“tapi pikiran saya ke dia.”

“Kadang ketawa…”
“tapi hati kerasa capek.”

Mamang menaruh kopi di depannya.

Panasnya, asap putih mengepul keluar dari gelas kopi.
Pria itu menatap gelasnya lama.

“Lucunya…”
“orang-orang kira saya gampang jatuh cinta Mang.”

“Padahal mungkin…”
“cinta saya udah habis di orang yang dulu.”

Mamang duduk di kursi sebelahnya.
Lalu menyaut pelan,

“Beberapa orang emang datang cuma sekali.”
“Tapi bekasnya… bisa sampe seumur hidup.”

Pria itu diam.
Matanya memerah.
Entah karena kepulan asap yang keluar dari gelas kopinya.
Atau karena kenangan.

Dan malam itu…
untuk pertama kalinya,
Mamang mengerti bahwasanya lelaki yang selalu terlihat paling bahagia itu…
ternyata cuma manusia yang belum selesai kehilangan.

Ada orang yang setelah pergi, tidak hanya meninggalkan hati dan kenangan.
Tapi juga menghapus kemampuan kita untuk mencintai orang lain dengan cara yang sama.